JAKARTA, KCM - Keberhasilan sistem keamanan informasi
di jaringan komputer tidak hanya ditentukan kualitas teknologi
yang digunakan, tapi juga kapasitas sumber daya manusia (SDM)
dan proses kebijakan yang dijalankan. Untuk membangun sistem
keamanan informasi yang kuat juga harus dipertimbangkan apa
saja yang akan diamankan dan mengapa informasi tersebut harus
aman.
Hal tersebut disampaikan John Howie CISA CISM CISSP, Director
Security Community Microsoft kepada KCM di ajang Bellua
Cyber Security Asia 2006 baru-baru ini. Bahkan untuk
mengelola sistem keamanan informasi perlu menerapkan sistem
manajemen standar atau information security management
system (ISMS) sesuai ISO 17799 dan ISO 27001 untuk memenuhi
tuntutan bisnis yang semakin mengglobal.
’Tidak peduli apakah perusahaan itu kecil, menengah, atau
besar, sistem keamanan perlu diimplementasikan sejak awal,"
kata Howie. Informasi apapun mengenai pelanggan merupakan
aset yang sangat besar bagi sebuah perusahaan sehingga harus
dikelola dengan baik.
Howie mencontohkan, sebuah firma kecil yang melayani transaksi
online dengan karyawan satu sekalipun perlu memastikan bahwa
jaringannya aman dan informasi mengenai pelanggan tidak berpindah
ke pihak yang tidak bertanggung jawab. Dengan demikian pelanggan
yang menyerahkan data-data pribadi seperti nomor kartu kredit,
alamat, dan nomor kontak percaya dengan pelayanannya.
Sesuai kebutuhan
Sebelum implementasi dilakukan, perlu dilakukan penilaian
apa saja yang perlu diamankan, apakah sistem email, transaksi
perbankan online, data pelanggan, data perkembangan bisnis,
atau informasi lainnya. Lalu, mengapa informasi tersebut diamankan,
apakah sekedar arsip, sebagai bukti, atau memenuhi persyaratan
yang ditetapkan regulator.
Andika Triwidada, ahli sistem keamanan jaringan komputer
dari PT INDOCISC, mengatakan langkah pertama yang akan dilakukan
saat implementasi adalah evaluasi security dengan
melakukan penilaian terhadap sistem keamanan yang dipakai.
Selain dari sisi teknologi, aspek SDM dan proses juga perlu
dinilai.
"Dicek servernya, perangkat yang aktif di jaringan, dan seluruh
workstation, apakah terdapat lubang keamanan, kemudian ditambal
satu persatu dan diuji kembali," ujarnya. Jika kelemahan-kelemahan
yang mungkin rawan ditembus serangan malware (malicious
software) - seperti virus, spyware, worm, trojan, atau
phising - maupun para cracker terlalu besar, mungkin sistem
perlu dirombak secara keseluruhan.
Sebagai gambaran, untuk menangani tahap assessment
sistem keamanan sebuah layanan e-commerce dengan
100 unit komputer desktop maupun laptop, Andika memperkirakan
butuh waktu 10 hari untuk menguji dan 10 hari untuk menambal
lubang keamanannya. Itu pun dengan asumsi tidak perlu perombakan
sistem secara keseluruhan.
Sedangkan menurut Howie, perusahaan juga harus memperhitungkan
manajemen risiko proses dengan melakukan mitigasi dan kontrol
dengan baik agar tidak terjadi kesalahan. Mitigasi tidak perlu
berlebihan dan harus dipastikan efektif sehingga ongkos data
control lebih murah daripada risikonya.
SDM paling sulit
Penanganan terhadap organisasi yang ramping dan besar tentu
saja berbeda. Pada perusahaan kecil umumnya penentu target
kualitas sistem keamanan adalah SDM dan teknologi sedangkan
pada organisasi yang besar umumnya lebih besar porsinya untuk
mengelola proses tanpa mengabaikan faktor kapasitas SDM dan
teknologi.
Meski demikian, mengelola SDM diakui Andika sebagai hal yang
paling sulit dilakukan sebab sangat dinamik, selalu berubah
apalagi di perusahaan besar, dan faktor-faktor kemanusiaan
yang sulit untuk dihitung takarannya. Sedangkan teknologi,
sekali dipasang dengan benar, selamanya akan bertahan hanya
saja selalu rentan dengan serangan-serangan baru.
Mau tidak mau sistem keamanan akan terus berubah menyesuaikan
dengan kebutuhan dan tingkat ancaman. Implikasinya, perilaku
SDM terhadap sistem keamanan juga harus terus diperbarui.
Aspek teknologi, SDM, dan proses memang harus saling mendukung
agar implementasi sistem keamanan berkesinambungan.
"Seluruh karyawan di Microsoft pun harus menjalani training
mengenai security agar mereka mengerti prosedur yang
harus dijalankan," kata Howie.
Multivendor
Salah satu strategi meningkatkan kinerja sistem keamanan
yang umumnya diterapkan para praktisi keamanan jaringan adalah
menghindari solusi monokultur atau dari satu vendor. Misalnya,
untuk server digunakan sistem operasi FreeBSD, tapi pada komputer
klien yang terhubung di jaringan menggunakan Windows XP atau
router utama Cisco namun switch-nya Bay Networks. Ini dilakukan
untuk menurunkan kemungkinan serangan baru melumpuhkan seluruh
sistem.